Senin, 21 Desember 2009

Bersama NU Menabuh Islam Moderat


Duta Masyarakat | 22 Desember 2009

Untuk sekian kalinya, NU mengadakan pertemuan para tokoh Islam lintas mazhab melalui organisasi International Conference Islamic Scholars (ICIS). Sekitar 100 ulama tingkat dunia hadir. Pertemuan yang diadakan pada penghujung tahun ini menjadi salah satu agenda menyambut Muktamar NU ke-32 di Makasar bulan Maret tahun depan (Duta, 19/12/2009).

Mempertemukan ulama dan cendekiawan Islam ini sangatlah penting. Apalagi mereka hadir dari berbagai mazhab dan kelompok ideologis. Sharing dan tukar pendapat bagian dari upaya mencari titik temu, bukan memperuncing perbedaan. Sebab, para ulama ini adalah salah satu tokoh sentral yang diikuti �sekaligus panutan� para pengikutnya.

Islam adalah satu, namun ekspresi keberislaman menjadi keniscayaan beragam yang tidak mungkin dipersatukan, kecuali pada prinsip-prinsip pokok keimanan. Sebab, setiap akal memiliki perbedaan yang dalam proses adaptasinya dengan teks-teks agama dilingkupi realitas budaya dan sosial yang beragam sekaligus berbeda.

Belum lagi kerangka-kerangka ideologis yang turut memperuncing perbedaan dalam mengekspresikan keberislaman. Islam secara teologis adalah sebuah agama, tapi persinggungannya dengan ideologi tertentu memungkinkan keberislaman itu cenderung ideologis sehingga ekspresinya berkembang pada upaya penguatan ideologi, sekalipun pada akhirnya terkadang melenceng dari prinsip-prinsip Islam yang menjunjung semangat kasih sayang (rahmah) dan kedamaian bagi semua.

Atas dasar ideologis, Islam sering diekspresikan dengan kekerasan, memaksakan yang lain dan menebar kebencian. Alih-alih menciptakan kedamaian, Islam ideologis ini kemudian cenderung mengembangkan fanatisme pada anggota yang pada titik tertentu membangun nalar tertutup, yaitu nalar klaim kebenaran (truth claim) yang menganggap dirinya paling benar dan yang lain salah sehingga harus dipaksakan pada kebenarannya.

Untuk itu, kaitannya dengan pertemuan para ulama diharapkan lahir satu kesepakatan sekaligus kebersamaan mengecilkan berbagai konflik kemanusiaan dan kekerasan antarumat yang dilatarbelakangi sentimen keagamaan, apalagi pertemuan ini dihadiri kalangan negara Islam yang dirundung konflik berkepanjangan, misalnya Palestina, Iraq, Lebanon, dan lain-lain.

Tiada keberislaman yang damai datang tiba-tiba. Tiada cinta kasih itu datang dari langit. Semua harus diusahakan semua pihak, khususnya kalangan moderat dengan senantiasa menabuh semangat antikekerasan sekaligus menghilangkan nalar tertutup. Itu semua sekali lagi harus dibumikan sesuai semangat zamannya, meskipun tetap memetik etika universalitas Islam, baik dari al Quran atau tradisi kenabian (al hadits) sebagai spirit geraknya.

Islam moderat

Apa yang dilakukan NU mengumpulkan berkali-kali kalangan ulama dan cendekiawan Islam dari berbagai dunia, menurut penulis, tidak lain sebagai upaya menabuh genderang semangat berpikir dan bertindak moderat. NU sebagai organisasi massa senantiasa, sejak berdirinya, memegang prinsip-prinsip moderat dalam menyikapi persoalan bangsa di atas kerangka berpikir ahlussunnah wal jama’ah.

Dengan sikap moderat, NU berusaha tidak ekstrem kanan, yang sering ditabuh kalangan islamis dan puritan, atau ke kiri yang dikembangbiakkan kalangan liberalis sekuler.
Langkah ini secara rasional mendorong semua pihak tidak fanatik pada kanan atau kiri, sementara apa yang dipikirkan tentang Islam adalah tetap sebuah tafsiran yang relatif sehingga tidak melupakan satu prinsip keagamaan yang mendorong pada keimanan di satu pihak dan menciptakan kedamaian pada sesama, manusia dan alam, di pihak yang berbeda.

Kalangan moderat berusaha tidak terjebak pada keberagamaan tekstualis yang skriptualis karena ia menjadi salah satu sebab timbulnya kebekuan komunikasi hingga menyebabkan timbul ketegangan antarumat. Dengan melihat teks agama apa adanya, seseorang mudah menolak tradisinya sendiri karena dianggap bertentangan dengan tradisi teks (Arab).

Kebenaran baginya adalah kebenaran teks, di luar itu dianggapnya keluar dari Islam, yang layak dihindarkan, jika tidak mengatakan diberangus. Maka tidak heran kemudian kalangan ini selalu membunyikan pentingnya khilafah islamiyah, penegakan syariah Islam, dan sejenis, serta menolak isu-isu demokrasi yang dianggapnya tercipta dari tradisi Barat, padahal semangat sejati dari demokrasi tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Khaled Abou Fadl (2005) dalam bukunya, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, cukup responsif menganjurkan agar umat Islam optimal mengembangkan teologi moderat. Bahkan baginya langkah ini berkaitan dengan penyelamatan jiwa dan nama baik Islam itu sendiri. Pertama, kalangan moderat dianjurkan sebisa mungkin terdidik dan menguasai berbagai pengetahuan tentang Islam dan syariat. Karenanya, diharapkan menjadi tandingan klaim dan kekuasan yang sama terhadap klaim-klaim kelompok lain dalam mendifinisikan Islam.

Kedua, kalangan moderat harus memandang diri mereka dalam kondisi jihad-defensif agar agama terlindungi dari serangan interpretasi dan disinformasi cacat terhadap Islam yang digarap kalangan puritan (tektulis-skriptualis). Artinya, jihad ini bukan bertujuan menumpahkan darah, tapi lebih pada jihad intelektual untuk merebut simpati kaum muslim dan non-muslim.

Paparan Khaled ini, jika dikaitkan dengan pertemuan ulama dan cendekiawan Islam se-dunia, tampaknya bagian dari gerakan NU menebarkan jihad intelektual untuk membumikan semangat Islam moderat dalam memaknai dan berbuat atas nama Islam, yaitu semangat mempersaksikan Islam yang ramah dan kasih sayang, bukan hanya di Indonesia tapi juga di belahan dunia.

Dengan tetap konsisten mengembangkan teologi moderat, diyakini atau tidak, NU akan menjadi barometer dalam menciptakan ruang publik yang beragam, tapi penuh dengan kedamaian sebagai aset bangsa yang harus bersama-sama dilestarikan.

Akhirnya, menjelang digelarnya Muktamar NU ke-32 di Makassar, persoalan pengembangan teologi moderat layak untuk tetap menjadi isu-isu sentral di tengah-tengah perdebatan isu-isu kembali ke khittah yang tiada pernah henti. Dengan ini, maka NU ke depan tetap jaya sebagai corong, sekalipun bukan satu-satunya, bagi pengembangan Islam moderat di tengah-tengah ancaman ideologi transnasional yang semakin gencar, bahkan mengancam nilai-nilai kebangsaan. Wallahu al Muwafiiq.

http://dutamasyarakat.com/artikel-26338-bersama-nu--menabuh-islam-moderat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar